Entry: buzz Thursday, May 25, 2006



Sehabis membaca esai Octavio Paz.

Aku sekarang sangat tertarik dengan gaya-gaya penulisan berbagai orang. Baik yang kukenal lewat jumpa imajiner maupun yang langsung bersentuhan dengan kehidupanku. Aku mencermati dan pada saat yang sama menemu keunikan mereka.

Aku berjumpa perulangan. Dan paralelisme.

Menulis adalah proses. Celakanya pada saat yang sama ia juga refleksi kepribadian. Jadi membaca gaya penulisan mirip dengan melongok pada relung-relung terdalam karakter seseorang. Persoalannya sekarang adalah belajar membaca.

Mengidentifikasi diri dengan idola adalah hal yang tak terelakkan. Aku menghindari kata niscaya sebisa mungkin. Sebagaimana idola adalah fakir daripadanya kita curi sedikit-demi sedikit keping kepribadian kita. Kita buat fragmen baru yang bernama aku.

“Aku” tak diam di tempat. Ia bergerak. Dinamis dan progressif. Jika ia merupakan sekuel imaji, ungkapan yang pas untuknya adalah kronofotografi. Progres yang tercatat dalam urutan gambar per gambar. Hasil akhirnya adalah laku. Gerak, untuk singkatnya.

Mungkin mimpi setiap orang adalah membidani kelahiran adjektif baru yang bersumber dari namanya. Dari gaya tulisannya.

Sade sukses dengan kata sadis. Jadi mimpiku mungkin menggurat kata sudris pada kening tempat menyimpan vocab setiap orang.

Yang jadi pertanyaan sekarang, mendefinisikan gaya menulis ala Soedra itu seperti apa?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments