|
Aku mau cerita soal seorang kenalan baru yang kutemui di warung kopi. Mas Seno namanya. Kejadiannya kemarin malam, sewaktu aku mampir ke Manut untuk ketemu si Gembul. Rencananya akan kuserahkan draf propaganda menolak SK Rektorat. Namun apa lacur, SK nya sudah dicabut tadi pagi. Yah, tak gunalah tulisanku itu. Tak guna juga jadinya rencana ketemu. Terbayang kan, betapa lambatnya aku menerima informasi. Tapi aku ketemu Mas Seno. Sebagai ganti kecewaku. Pemuda ini istimewa karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah kecerdasannya yang tak dibalut oleh kemasan artifisial. Maksudku, tak seperti beberapa orang yang kutemui yang berusaha keras menjadi terkesan intelek dengan berbagai macam cara. Mas Seno apa adanya. Namun kutahu dia cerdas. Obrolan kami ngalor ngidul. Mula-mula bicara tentang nonton film, lalu soal pendidikan, tiba-tiba bisa nyambung ke komik dan cerita. Nah ini dia. Ini dia yang pengen kuceritakan. Mas Seno punya sesuatu yang menarik soal “cerita”. Kenapa? Sebab ia kini sedang berada dalam sebuah penyelidikan untuk menyingkap apa itu cerita! Kata dia, cerita adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Tak ada cerita ya tak ada kehidupan, simpulnya. Hal itu yang mendasari ketertarikannya untuk menyelami dunia perceritaan lebih lanjut. Ia mulai dengan mengajukan pertanyaan; kenapa orang bercerita? Apa yang orang inginkan dari sebuah cerita? Dan seterusnya, dan seterusnya. Panjang. Namun sangat menarik. Aku tak bosan mendengar dan berdiskusi dengannya. Kalian boleh percaya boleh tidak, obrolanku dengannya bisa dipakai sebagai tips bagi mereka yang ingin menulis sebuah cerita. Eh, yang kumaksud pemaparan yang ia bagi denganku. Sebab ketika mengobrol ia yang lebih banyak menjelaskan. Obrolan kami misalnya, apa unsur pokok pembentuk cerita. Lalu tentang konflik. Apa itu konflik? Wah, kami membahasnya panjang lebar lho. Satu lagi, apa sebenarnya yang membuat kita bisa mengatakan sebuah cerita itu bagus? Ternyata menurut Mas Seno hal itu adalah rasa percaya. Kalau ku mengulang kembali obrolan kami, tak cukup lah satu dua lembar folio. Buku mungkin yang lebih pas. Sempat juga kukatakan itu sama Mas Seno. Dia berujar, tunggulah nanti. Mungkin 20 tahun lagi, kalau aku sudah jadi doktor. Hehehe ia tertawa. Jangan salah, saking panjang lebarnya aku baru pamitan jam setengah dua pagi. Kembali ke kecerdasan yang kutemukan dari Mas Seno. Ia salah seorang yang membuatku semakin yakin kalau tolok ukur kecerdasan seseorang bukan dari banyaknya kata serapan yang ia pakai, atau istilah-istilah rumit yang bikin ini kepala rindu Paramex. Ia apa adanya, tapi mampu menjelaskan berbagai konsep rumit dengan bahasa sederhana. Aku sampai menduga, jangan-jangan ia juga bisa berdiskusi tentang dramatika atau drama tiga babak dengan tukang becak. Aku jadi makin kagum pada saat dia bilang dia tak lulus kuliah. Kagum dalam arti, horisonnya jauh lebih luas dari anak kuliahan sepertiku. Iya, Mas seno dulunya juga kuliah. Tapi mungkin karena pertimbangan tertentu dunia kerja lebih menjanjikan baginya. Ia bisa beragumentasi dengan baik soal hal ini. Baginya yang terpenting adalah pengalaman dan skillmu. Nanti itu terlihat dalam portofolio ketika dirimu melamar pekerjaan. Tak usah khawatir, jika portofoliomu dan referen didalamnya bagus, kamu bisa bersaing dengan para fresh graduate. Ia sudah membuktikannya jadi aku percaya. Ia belum pernah ditolak jika melamar kerja. Gak tamat kuliah kok mau jadi doktor? Iya ia tak tamat di Fakultas Sastra. Tapi kini ia mengambil satu mata studi di universitas terbuka. Jadi kuliahnya di Fakultas Sastra yang tak ia selesaikan. Oh iya, mungkin juga karena ia sudah kerja yang bikin dia jadi terbagi konsentrasinya. Ia penulis naskah film. Sudah banyak karyanya yang difilmkan, jika ku tak salah mendengar obrolannya dengan Gembul. Luar biasa. Berprestasi ternyata tak harus lewat titel bergengsi.
|
| Leave a Comment: |