<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, April 20, 2006
blog walking

   Regarding the newly arising phenomena of blogging, it is so surprising how this disease is widely spread. It seems like all the people who religiously engaged to the net has their own blog. Wow, doesn’t that fact figure out something? Yeah, they are absolutely in to that. I think I know why. The coolest thing of blogging I guess is its ability to let us be read and read others’. Compared to the conventional way of writing a diary, this is such an unbelievable innovation. When was the last time you feel so glad when your diary is read by unknown stranger passing by? Never before. The personal now officially move to public. That’s why the experts address it as journalism without border, since anyone could be the producer and consumer of information. It simply breaks the barrier of spreading information through media.

   To tell you the truth, some celeb’s blog ain’t cool anyway. There is an obvious contrast of one’s image in media and her private section. Mind blog walking with me? C’mon and let’s see what can we find on the net. Hey! What’s this? Is it really her blog? Ay ay ay, ladies and gentlemen here it comes, Angelina Sondakh’s blog. Just so you know this is her address on the web: angelinasondakh.blogs.com. The first time I dropped by to her blog I can’t believe it’s hers. There’re several things my mind could hardly believe were displayed in it. Simply her blog is full of cheap articles (oh, Angie juga manusia…). Can you figure it out a really bad mixed of gutter papers and romance of a junior high’s monotonous-style-telling story? I can then, after reading hers. It is certainly as boring as hell. So Angie—borrowing my friend’s expression—please don’t hate me because I’m cynical.

   The tagline of hers will let you laugh for a while; her motto is beauty, brain, behavior and—can you believe this…—blessed! Wow, what a frankness you’ve said dear. But it ain’t cool to emphasize the blessing. We know God never be fair when it comes to the physical trait. So keep the blessing fur yourself.

   Turn down the scroll and read the articles. There it was; her story with Adjie Massaid! The story itself reminds me to Tersanjung 14. She also attaches some of her photos with him. Huhuhu, how romantic you are my dear Angie. It is scary how can she be our representative. She should write something to Raam Punjabi or be a chicklit writer. The title of the novel can be romance at the house of representative or flirting with while deliberating RUU Pornografi dan Pornoaksi.

(Well, anyway…It is not fair becuz I’m expecting once-my-idol Angie too much to be perfect)


well, this is the response

Here is no phantom that caresses me,

I’m alone walking here by the shore
The one I thought wasn’t with me;
                        as now I walk along the shore

I have even no phantom that caresses me
no phantom that caresses me…

poor me, old Whitman
mock me, old Whitman

and those appear that are hateful to me
and mock me.


Thursday, April 06, 2006
sickening month

What would it be like; lost in the edge of cruel weeks within a place far away from home like Djogjakarta without bucks in your pocket? I couldn¡¯t help thinking bout it since the situation struck me, just now! Feed my lust for a couple of weeks and starving for the rest of them. Forget ¡®bout famine out there in Africa, here they have one. Come one, quick! Give me the loan! Friends, Comrade, Pa and Ma, Jesus¡¦ arrrghhh. I¡¯m broke.

Frankly speaking: how can I get some money? Short of earning it, I mean. Do I have any stocks I can cash? War Bonds?


Wednesday, March 29, 2006
not important...

 

Fakultas Sastra, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi

Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.

Tampaknya kesenangan membaca karya sastra membuat nama-nama besar diatas menjadi peka terhadap keadaan di sekeliling mereka. Tak salah, sebab sastra menawarkan semacam dunia kecil dimana mereka bisa terlibat serta berinteraksi sekaligus berempati. Dari empati ini kemudian timbul kesadaran yang mengendap bahwa ada yang tak beres dengan realitas. Banyak ketimpangan yang mungkin tak disadari jika kita tidak mengasah kepekaan dalam membaca keadaan sekitar. Walhasil, darah muda yang menggelegak segera mengambil sikap dan berpihak. Jelas, mereka sadar kemana seharusnya keadaan diperjuangkan; ada yang tertindas dan membutuhkan uluran tangan!  

II

            Pikiran yang agak naif, tapi kira-kira itulah yang saya pikirkan ketika masih berada di sekolah menengah. Saya dulu begitu terobsesi untuk masuk Fakultas Sastra. Saya merasa disinilah tempat bersemainya agen-agen pembawa kabar perjuangan. Terutama setelah saya membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie, yang tentu saja masih berkover warna merah dan bentuknya kecil seperti novel, bukan yang bersampul Nicholas Saputra seperti sekarang. Saat itu tak jarang saya mengkhayalkan para mahasiswa berjaket kuning berdemonstrasi dan Gie berada di deretan paling depan para demonstran sembari tak henti-hentinya meneriakkan—maaf bukan umpatan semacam Soebandrio andjing Peking dan sebagainya—tetapi sepenggal dari Aku-nya Chairil Anwar: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang! Sementara di balik aksi lapangan itu kantung-kantung perkumpulan mahasiswa diramaikan dengan diskusi sastra, mungkin sedikit komentar dari hasil pembacaan novel semacam Germinalnya Emile Zola (Saya tak tahu apakah novel itu sudah masuk Indonesia saat-saat Gie jadi aktivis, novel itu terbit tahun 1968). Lalu media kampus diramaikan dengan tulisan yang mengekspresikan protes dan idealisme mahasiswa yang dianggap subversif. Dunia yang dialami Gie romantik, dan eksotis. Ya, eksotis untuk anak SMU yang masih asing dengan dunia mahasiswa. Tak salah kiranya jika saat itu hasrat di hati ini masuk Fakultas Sastra sangat menggebu-gebu. Sederhana, saya merindukan pertemuan dengan rekan-rekan yang memiliki nyala revolusi di dadanya. Saya ingin mereka mengobarkan api yang sedang berkedap-kedip hilang bentuk di hati ini.

            Tapi rindu saya karam, megap-megap dalam lamunan ketika saya memasuki tahun kedua di Fakultas Sastra Bulaksumur yang tercinta (saya memang tak jadi terdampar di UI). Saya pangling mencari figur-figur dalam khayalan saya dahulu. Lama sudah beta menyelusup tapi tak kunjung juga ketemu. Tak nyana, karena lelah tersesat dalam pencarian, entah kenapa saya menjadi teryakinkan bahwa revolusi enggan berkunjung kembali. Jelas revolusi dalam artian sempit semisal usaha mereproduksi lagi euforia '98 yang sudah lewat telah menjadi obrolan basi. Tapi bagaimana kabar "revolusi" dalam sikap, karya, serta usaha menjaga atmosfir dimana api gairah terhadap perubahan serta hasrat berkarya yang kritis itu tetap menyala-nyala? Indahnya kampus ketika setiap individu yang melakukan perjumpaan adalah entitas yang penuh vitalitas dalam mengemban sebutan mahasiswa sastra di pundaknya. Mereka adalah individu yang mabuk dengan poetry dan virtue. Saya tak tahu. Ah, mungkin benar kata Goenawan Mohamad: revolusi sudah tak ada lagi. Kini, ketika saya memasuki kampus dan melabuhkan pandangan ke sekeliling, saya selalu tergoda untuk berkomentar. Saya sadar, komentar saya pasti subjektif. Tapi tak ada salahnya dan ada baiknya juga kita bersama bertukar  cerita.

             Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza (atau bahkan kini bonbin!) dimana berbagai mahasiswa berseliweran bertemu selintas lalu, berbagi kesan dan rupa. Di pojok-pojoknya anda akan menemukan sekelompok mahasiswa yang mungkin sulit dibedakan dengan anak SMU. Mereka tampak begitu hip dengan dandanan terkini ala distro dan pencitraan yang akrab bagi pemirsa MTV. Begitu asyik gosip populer bergulir diantara individu-individu tersebut yang mungkin bisa kita identifikasi sebagai mereka yang hanyut dalam konsumsi budaya massa. Bertanyalah tentang lagu-lagu yang menghiasi chart MTV ampuh, novel chicklit yang terbaru untuk kaum wanitanya, sneakers Vans seri apa yang sedang in, atau kapan film Sembilan Naga tayang di Jogja. Anda sedang mendiskusikannya dengan para pakar. Tapi jangan langsung mencoba topik diskusi seperti, apakah kamu sudah baca The Outsider-nya Camus? Eh, kamu punya bukunya Sade ga? Atau sedikit tajam dengan berdebat tentang payahnya hasil terjemahan karya sastra atau buku tertentu. Itu sangat beresiko membuat anda terlihat seperti Zarathustra di tengah pasar. Saya sering merasa sebagai sobat yang tertinggal atau bahkan idiot diantara para hedonis pengkonsumsi produk culture industry ini. Entah, tampaknya saya termakan ucapan Adorno ketika ia berujar bahwa orang-orang yang tak mampu berbicara dalam bahasa mereka bisa dicurigai sebagai idiot atau intelektual. Saya jelas bukan intelektual, jadi mungkin saya idiot.

            Selangkah lebih ke dalam menelusuri lanskap Fakultas Sastra, anda akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang lebih serius. Menenteng ransel besar dan berat kesana-kemari, serta bergumam tak jelas tentang SKS atau nilai mata kuliah. Topik obrolan mereka lebih fokus, seperti bagaimana perkembangan skripsimu? Atau untuk yang lebih muda akan bercerita tentang nilainya yang kurang memuaskan ditambah omelan tentang dosen yang keparat. Menyenangkan bila berada di sekitar mereka, terutama mengamati determinasi mereka yang tinggi untuk segera menyelesaikan studi. Tak diragukan lagi, ini akibat pragmatisme yang timbul akibat makin meningkatnya biaya kuliah. Tapi saya takut jikalau sikap apatis mereka terhadap keadaan sekitar bisa berakibat terlalu jauh. Calon intelektual Mandarins, kata para tokoh Frankfurt school. Ya, rekan-rekan yang seperti ini biasanya tak ambil pusing dengan isu-isu seputar kampus maupun yang lebih kritis lainnya. Blueprint masa depan mereka sangat jelas; secepatnya keluar dari neraka kampus dan mencari kerja. Syukur-syukur bisa mandiri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi bagi saya hidup seperti itu datar, tak bermakna. Dimana romantisme berkarya? Dimana revolusi masa muda? Kasihan.

            Lebih ke dalam lagi di Fakultas Sastra. Mungkin sekarang sisi-sisi gelap agak terungkap. Berkunjunglah di malam hari ketika Sastra sedang berpesta dalam musik yang ceria. Selain mereka yang berjoget seiring musik yang menghentak, di beberapa sudut mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang duduk melingkar mengelilingi gelas minuman. Perkenalkan, ini teman-teman kita yang menghayati Baudelaire dengan sepenuh hati: mabuk dan mabuklah!

Get drunk and stay that way
On what?
On wine, poetry or virtue, as you wish...   

Jujur, saya juga bagian dari mereka; rekan-rekan yang akrab dengan air kedamaian. Bagi saya alkohol terkadang perlu untuk menjaga kegelisahan, dan kegelisahan adalah tempat bersemainya inspirasi (namun saya juga berusaha mengingat poetry dan virtue, tidak sekedar wine). Satu hal yang ditakutkan; perjamuan dalam kadar yang berlebihan bisa membawa efek yang tidak diinginkan, setidaknya membuat kita menjadi tidak produktif. Karya tidak lahir dari entitas yang hidup dalam dunia bawah sadar. Saya juga segan jika saya lebih dikenal karena hobi saya menenggak minuman daripada sebagai seorang mahasiswa sastra. Terkadang usaha mendisiplinkan tubuh juga perlu, bukan begitu?

            Berlawanan dengan kamerad-kamerad pengkonsumsi alkohol tadi adalah teman-teman kita yang sangat religius. Anda tak usah kemana-kemana untuk mencari mereka, di Sastra mereka ada dimana-mana. Tampaknya tak pas membicarakan revolusi atau karya yang subversif dengan rekan-rekan ini. Sebab tak ada riak ombak di laut yang dalam, pepatah lama mengatakan. Jadi mari kita batasi topik ini hanya pada kita yang masih bingung memilih antara religi dan religiositas, dua hal yang bagi Mangunwijaya jelas bedanya. Apalagi untuk saya yang sering mengutip Subagio Sastrowardoyo, salah satu pahlawanku, untuk menggambarkan hubungan saya dengan Beliau: 

Bapa di sorga.
Biar kita jaga jarak
Ini antara engkau dan aku
Kau hilang diantara keputihan ufuk
Dan aku tersuruk ke hutan buta...   

Berbahagialah mereka yang merasa telah menemukan lentera di ujung perjalanan.

            Satu lagi dari Fakultas Sastra; "bidadari-bidadarinya". Sayang, saya tak tahu banyak tentang mereka. Apakah mereka kebanyakan bertipe licin dalam memperdaya lelaki seperti Lolita dalam novelnya Nabokov, gemar berpetualang karena materi seperti Madame Bovary, ataukah yang setia walau derita mendera seperti Hester Prince, entahlah. Saya berharap mereka tertarik dengan "revolusi" yang kita bicarakan. Anda lihat-lihat sendiri saja, siapa tahu anda menemukan satu dara yang bergaya Rive Gauche ala Paris '68 atau Flower Generation alias Hippies tahun 60-an. Lumayan, untuk ditanyai motivasinya tampil beda atau ngobrol tentang Howl-nya Allen Ginsberg:

I saw the best mind of my generation destroyed by
madnes, starving hysterical naked,...  

III

            Lalu dimana Fakultas Sastra yang banyak menginspirasi dan melahirkan para pembawa nyala api revolusi di dadanya? Dimana calon Gie-Gie baru? Dimana Rendra-Rendra baru? Mereka tampaknya tersingkirkan diantara keriuhan pesta pora Fakultas Sastra yang kian riang dan dekaden. Mereka makin asing dengan gedung-gedungnya yang makin tinggi dan menebarkan kemapanan. Mereka mengingatkan saya pada perasaan yang Ayip Rosidi ungkapkan dalam puisinya berjudul New York, musim panas tahun 1972: 

Disini matahari terbit 
           tapi entah dimana
Disini matahari terbenam
           tapi entah dimana
           Sinarnya tak pernah tiba di bumi
           tersangkut di gedung-gedung tinggi 

Ya, Fakultas Sastra kini mirip metropolitan New York, dengan bule-bule lalu lalang kesana kemari. Ia makin asing bagi mereka yang merindukan suatu revolusi yang romantis. Ia semakin berjarak dengan sejarahnya yang pernah melahirkan nama besar seperti Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rendra dan Umar Kayam.

Lalu saya? cuma seorang flaneur di tengah hiruk-pikuk tersebut. Saya berusaha bercerita dari sudut pandang seorang pejalan kaki yang mengamati. Inilah tampaknya realitas di saat aktivisme dalam karya tak lagi memikat, di saat media kampus mulai sekarat, di saat tangan yang terkepal dan lagu darah juang mesti disimpan rapat, disaat Iwan Fals pun mulai menyanyikan lagu cinta, di saat –mungkin—revolusi sudah tak ada lagi.  

(Padahal masalah tetap ada, realitas belum banyak berubah. Negara makin voyeuristic dan represif ketika blog pribadi bisa dipermasalahkan, kampus tak becus dalam mengurus GAMA card, DPR makin menggelikan dengan UU yang nyeleneh, dan seabrek masalah lain yang membuat kita mual secara psikis. Sudahlah, amini saja apa yang terjadi. Mari terus bermimpi!)

   

                                                                                        


Sunday, February 26, 2006
...

Suddenly, the silent death

Before me she appears reluctant to kiss
Neither me nor she embraces, o purple night
Between us the solitude in blurry white gown so tight

Kiss me, o
Kiss me, o

(The silent death in silence
silent is the lover
silent is the dagger)

and suddenly, the silent death.


Friday, February 24, 2006
sebuah kafe dan malam yang makin larut

I
Kawan mari kita bersama bunuh malam
agar ia tak mengintip
kita yang setubuhi kopi
dan hardik sigaret yang cerewet

reggae dari turntable di seberang meja
menyeretku ke satu tempat
ketika malam masih rapat
dan tahu gelagat

Kawan, kenapa kita tak bunuh malam?
Ia tak lagi kelam

Kawan, cepat kau bunuh malam…

II
Dan mimpi itu menjelma lorong
dimana aku bingung mencari ujung

Dan mimpi itu berubah lebah
yang tak lelah mendengung
sakiti kepalaku linglung

Dan mimpi itu mengikik
menertawaiku lalu mencekik

Dan mimpi itu,
bernama rindu.

III
Bayangkan aku dalam sangkar
Ku tak bisa ingkar

Bayangkan aku tenggelam
memanggil kegelisahan

Bayangkan aku mengecupmu
dengan bibir yang digincu hanya untuk malam itu

Bayangkan aku menderu dalam debu
topeng-topengku

Bayangkan aku yang membayangkan
dibayangkan terbayangkan
bayang-bayang.


Thursday, February 23, 2006
...

Kusapa gelisah yang bertandang kepadaku
Sore itu,
Apa kabarmu?
Tak kau sahut
Maka kuhidangkan diam
Yang kita bagi di beranda
hingga enggan malam

kusapa gelisah yang tak acuh padaku
sore itu


Sunday, February 19, 2006
tanggapan atas ruu pornografi

negara makin normatif,
makin tidak realistis dengan undang-undang yang
memperkosa wilayah privat.
prioritas negara juga patut dipertanyakan,
apa iya ini isu yang cukup penting
di tengah masalah-masalah kemanusiaan yang lain?
ujung-ujungnya nanti negara jadi voyeuristik
makin suka ngintip masyarakatnya.
masyarakat juga makin teryakinkan
kalau negara tak ubahnya menara panopticon
kerjanya cuma jadi pengawas...
mau jadi apa seh,
polisi moral?
sudah saatnya seni menggeser moralitas ke keranjang sampah
biarlah moral menjadi etika yang personal
Nichst ist wahr, alles ist erlaubt,
dalam seni tidak ada benar ato salah, maka semuanya diperbolehkan
memang agak radikal
tapi lebih mending
daripada jadi pengikut kaum fundamentalis yang sok moralis
bukan begitu kawan?


Friday, January 27, 2006
humor yg bagus bwt menampar wajah

   Bagaimana rasanya memasuki sebuah kelas teori terjemahan dengan seorang yang bergelar master dan calon Phd di jepang sebagai dosen anda?

   tampaknya mengambil mata kuliah teori terjemahan adalah kesalahan terbesar saya di semester ini. awalnya saya memprediksi mata kuliah tersebut akan mendukung progress saya di mata kuliah terjemahan I yang lebih berorientasi ke praktik penerjemahan. praksis tentu membutuhkan basis teori yang kuat, hal inilah yang mendasari tindakan saya untuk mengambil keduanya secara bersamaan. namun prediksi terkadang meleset. saya berbalik menyesal mengambil mata kuliah tersebut setelah menghadiri kuliahnya untuk pertama kali. alasannya sederhana, saya meragukan kapasitas dosen yang bersangkutan.

   saya tidak bermaksud untuk menjadi arogan. saya yakin beliau mempunyai keahlian di suatu bidang disiplin tertentu namun tentunya tidak di bidang ini. alasannya sederhana; seorang dosen teori terjemahan idealnya memiliki kemampuan bilingual yang mapan. sebab sekalipun bertajuk teori tapi pasti dan mau tak mau akan berhadapan dengan aplikasinya. sayang sekali prasyarat ini tampaknya belum bisa dipenuhi oleh dosen saya yang terhormat. saya tidak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris beliau berdasarkan alasan-alasan berikut:

   sebelum kuliah efektif dimulai, beliau membagikan handout yang sebagian besar adalah makalahnya untuk seminar tertentu. diantara makalah tersebut terselip tulisan beliau--berformat surat--dalam bahasa Inggris. ketika melihatnya pertama kali saya disambut dengan headline nama sang dosen lengkap dengan titel yang berekor panjang serta embel-embel calon Phd di Jepang. waduh, apa maksudnya ini? dengan nada humor saya melempar joke kepada teman; jika ini ditujukan untuk membuat silau mahasiswa, jelas si dosen salah alamat. kami sudah mafhum kalau intelektual yang berisi justru risih dengan titel yang kini sudah mengalami "demistifikasi" akibat banyaknya proses illegal untuk meraihnya. sikap skeptis saya semakin menjadi-jadi setelah membaca tulisan beliau dalam bahasa Inggris. sambil tersenyum menahan malu saya membaca tulisan tersebut yang penuh dengan grammatical error yang sangat avoidable bahkan untuk anak semester 3 sekalipun. kesalahan kesalahan seperti tenses dan bahkan--please deh--verb pronoun agreement such as "u should add s or es to the verb if the pronoun belongs to third person singular", ladies and gentlemen, berserakan di tulisan beliau yang hingga kini tak jelas relevansinya untuk apa. tak pernah ada diskusi atau pembahasan tentang tulisan berformat surat itu. padahal menurut saya tulisan tersebut sangat bagus untuk dijadikan bahan diskusi dengan tema misalnya"to find ugly grammatical error within a doctoral candidate's writing". saya lebih merasa tertampar lagi setelah mengetahui fakta bahwa beliau adalah rekan sealmamater --yang entah tahun berapa-- di English Department sebelum melanjutkan studi pascasarjana lalu menyeberang ke jurusan lain untuk menjadi tenaga pengajar.  entah ya? seharusnya setelah melanjutkan ke S2 bahasa Inggris beliau semakin terasah dengan asumsi beliau telah melahap banyak literatur berbahasa asing. setidaknya kemampuan bahsa Inggris pasif. tapi kalau kenyataannya begini, mau apa lagi. dan beruntungnya saya saudara-saudara, kini beliau memberanikan diri berdiri di depan kelas untuk mengajar teori terjemahan!  

   sedikit mempersingkat cerita, saya akhirnya mendapat D untuk mata kuliah itu. saya tak akan memprotes. saya sadar setelah tiga atau empat kali bolos dan sekali walkout di depan hidung beliau, harapan saya untuk mendapat nilai yang layak sangatlah tipis. padahal nilai mid term exam saya termasuk yang tertinggi di kelas--kedua atau ketiga, saya lupa. itupun dengan pengerjaan seadanya dan keluar paling cepat akibat tak tahan dengan udara ruang ujian yang sesak dengan aroma kebosanan. lagipula saya cukup terhibur dengan nilai saya di kelas terjemahan I yang mendapat A-, setidaknya kelas ini lebih berbobot dan mengutamakan praktik. ironis bukan?

   sebenarnya sedari awal saya juga tidak setuju dengan pendekatan penerjemahan beliau yang ketat dengan birokrasi penerjemahan kata perkata. sekalipun melalui proses lanjutan, namun terjemahan kata-perkata rawan akan kesalahan. seperti misalnya dalam penerjemahan idiomatic exspression, anda tidak mungkin menerjemahkan to bring charcoal to Newcastle  menjadi membawa batubara ke Newcastle. anda seharusnya mencari padanan yang equivalen dalam bahasa sasaran untuk idiom tsb. saya juga tidak sependapat dengan beliau yang memvonis terjemahan yang menurut saya luwes sebagai saduran atau bahkan bukan terjemahan. beliau berkeras bahwa penerjemah tidak boleh menambahkan sesuatu yang tidak ada di dalam teks sebagaimana juga tidak boleh mengurangi. iya, saya mengetahui prinsip tersebut. tetapi yang saya sayangkan beliau menafsirkan prinsip tersebut dalam tataran kata atau satuan bahasa. seharusnya prinsip itu diterapkan dalam tataran semiotik atau makna teks. terbukti dengan adanya prinsip penambahan atau pengurangan dengan tujuan kehematan. kadangkala dalam menerjemahkan kita perlu menambahkan informasi tertentu ke dalam hasil terjemahan dengan tujuan menjembatani cultural barrier  yang menghalangi pembaca memahami istilah khusus dalam suatu budaya. bahkan struktur kalimat juga bisa dimodifikasi dengan tujuan keluwesan dalam menerjemakan. suatu frase kata benda bisa diubah menjadi frase kata kerja dalam kasus-kasus tertentu. hal ini dapat dilihat dalam makalah Dick Hartoko tentang trik-trik menerjemahkan yang dimuat majalah Basis. terlebih lagi jika dikaitkan dengan terjemahan teks sastra dan terjemahan stilistik. penerjemahan kata perkata jelas tidak dapat mengakomodasi dinamisme teks sastra. sebab dalam penerjemahan teks sastra kita tidak sekedar menerjemahkan informasi belaka melainkan juga gaya atau style pengarang serta aura estetis dari teks. dapat dilihat misalnya dalam penerjemahan Saman Ayu Utami ke bahasa Inggris. disana banyak ditemukan kalimat-kalimat yang termodifikasi bahkan paragraf yang distruktur ulang. itu semua semata-mata untuk menghadirkan suasana teks sebagaimana teks Saman dalam bahasa Indonesia. jadi sebenarnya sudah usang untuk memperdebatkan terjemahan kata-perkata apalagi masih konservatif mempertahankannya.

      sekalipun demikian saya menyadari kesulitan yang dialami dosen saya yang terhormat (disaat yang sama juga keparat) dalam membawakan materi teori terjemahan. dengan kemampuan bahasa Inggris setara anak semester 1 dan bibliografi terbatas --dia bahkan tidak menganjurkan membaca Seni Menerjemahkannya Widyamartaya yg sangat klasik, Catford dan Nida juga sekedar kutipan lalu-- persoalannya sekarang adalah menyembunyikan keterbatasan diri sendiri. saya sering tertawa sembunyi-sembunyi ketika beliau tidak yakin dengan jawaban terjemahannya sendiri. sulit memang.         


Saturday, January 07, 2006
crappy week

Theme this week: hard days of so wearing examination
Bored, exhausted, too much cigaro and cocteau twins since last night
Babi's in charge of contaminating me with to much cocteau
Damn it's fuckin good

(My lung is killing me…)

This room again, where cement makes some dirty spots all over my bedcover
Got laid early in the afternoon of the first day 2006, start the day with sin—my room must be the most comfortable for sinner

These days seem endless. I dunno may be time stretch itself, though 24 hours is still the same to anybody else. I have to read this and that, type this and that, submit this and that. This and that again. They're bulshitting me. Exam, cliché and full of boredom.

I miss the conversations. Rambling bout girls, Rive Gauche fashion, and cutting edge issues such as what did she write at the blog?—and some home-brewed coffee Lampung.

Long live Soedra n fren, all round conversationalists!!!


Previous Page Next Page