Jangan Kau Tanya Arti Puisiku Mario
Untuk Robert Frost dan The Road not Taken-nya
Saya sependapat dengan Horace yang pernah mengatakan bahwa puisi itu layaknya imaji atau gambar. Ut pictura poesis, katanya dalam Ars Poetica. Sederhana, sebab kata-kata yang penyair untai berusaha membangun sebuah penggambaran tertentu dalam benak pembaca. Seberapa berhasil sebuah puisi mengesankan saya tergantung dari sejauh mana ia berhasil mengkonstruksi imaji dalam pikiran ini.
Saya sedari dahulu kagum dengan penyair-penyair tertentu yang mampu menggali kekuatan kata-kata untuk menghadirkan bayangan yang luar biasa magis bagi saya. Coba kita simak bersama salah satu sajak dari Goenawan Mohammad ini, Lagu Pekerja Malam:
Lagu pekerja malam
Di sayup-sayup embun
Deru menderam
Saya terkesan pada larik kedua puisi tersebut yang dengan cermat dan cerdik menaruh kata sifat sayup-sayup untuk embun. Luar biasa. Dalam bayangan yang hadir di kepala saya, terlihat suasana riuh kota dini hari dimana embun tipis putih menghalau pandangan, yang kadang terlihat kadang tidak.
Atau satu sajak lagi yang selalu menjadi favorit saya, La Seis Cuerdas atau The Six Strings dari Federico Garcia Lorca:
The guitar
makes dream weeps
the sobbing of lost
souls
escapes through its round
mouth.
Hati saya tergerak oleh khayalan tentang anak-anak muda yang mengambil gitar lalu mendendangkankan sepatah-dua patah lagu cinta yang mendayu-dayu. Mereka ini lagi nggrantes, kalau orang Jawa bilang. Dan itu benar, saya sendiri merasakan pengalaman ketika cinta ditolak lalu tergesa mengambil gitar dan menyanyikan lagu-lagu cengeng. Jiwa saya yang hilang terisak-isak lewat mulut bundar si gitar bersenar enam.
Hal diatas tadi selalu menjadi pertimbangan utama saya dalam membaca puisi. Oleh karena itu, puisi yang memikat selalu meng-KO saya dengan gambaran yang cantik sejak pembacaan pertama.
Sayangnya, The Road Not Taken dari Robert Frost kurang berhasil untuk melakukan hal tersebut.
Saat membacanya, imaji yang ia hadirkan dalam benak saya adalah seorang tua yang membatin. Frost sendiri. Di dalam termangunya ia mengingat dua buah jalan yang dulu pernah ia hadapi. Yang satu telah ia lalui dan membawanya hingga ke titik ini, sedangkan yang telah ia tinggalkan masih ia ingat jelas dalam kenangan. Jalan itu, dalam benak saya, jalan pedesaan yang bersemak-semak dengan rerumputan liar disisinya. Sebuah gambaran yang saya bingung sisi menariknya dimana.
Apa yang anda harapkan dari saya, seorang anak muda berumur dua puluh tahun dengan jiwa yang masih meledak-ledak, naif, dan tak berpikir panjang? Yang sajak-sajaknya selalu nakal, dan terkesan dengan sajak yang nakal pula. Yang jelas bukan sebentuk kebijaksanaan. Saya berpikir kekuatan puisi ini, saya akui sajak Frost tidak begitu saja gagal, ada di larik terakhir ketika ia menyatakan:
I took the one less travelled by,
And that has made all the difference.
Frost berhasil membuat saya menebak-nebak apakah ia menyesal ataukah jumawa dengan pilihannya. Namun ketika saya menyadari ia telah melalui jalan yang tak banyak diambil oleh orang lain, saya pikir penyesalan tentu bukan hal yang ingin ia sampaikan. Proud, mungkin lebih tepat. Saya akhirnya samar-samar menangkap meaning puisi ini. Namun yang membuat saya enggan adalah referencenya, yang jelas serupa nasehat. Puisi ini ada di luar horison harapan saya sebagai pembaca. Robert Frost jelas ingin mengatakan sesuatu pada saya, yang demi Tuhan saya sungguh tak tertarik.
Puisi yang membuat saya tertarik adalah puisi yang tak pretensius, yang tak ada kandungan nasehat didalamnya, atau setidaknya saya tak menduga seperti itu. Penyair cukup membagi pengalaman yang ia terjemahkan pada bahasa sajak, lalu sajak itu sendiri yang bercerita pada saya. Dalam The Road Not Taken, yang berbicara bukan sajak. Tetapi Robert Frost.
Saya percaya puisi yang bertahan adalah puisi yang selalu dimaknai terus-menerus, yang enggan untuk berhenti dan terjebak pada satu terminal analisis. Untuk itu ia harus dekat dengan dengan pengalaman, agar pembaca dengan subyektivitasnya sendiri menggauli dan menentukan nasib puisi tersebut. Jangan sampai pesan atau pretensi-pretensi yang menghantui pembaca dan memaksa memaknai. Sebab sekali berarti, sesudah itu mati ucap Chairil Anwar suatu kali. Robert Frost dengan The Road Not Taken-nya, menurut saya, lebih dekat ke beban pretensi yang ia bawa daripada membiarkan pembaca asyik dengan imajinya sendiri.
Robert Frost dan puisinya ini, baiknya dikumpulkan dengan Langston Hughes saat periode komunisnya ketika ia membuat puisi yang menggelikan tentang nabi baru bernama Karl Marx.
Lalu bagaimana seharusnya puisi digauli dalam keintiman antara pembaca dan sajak?
Jika anda sempat menonton Il Postino, ada adegan yang berisi pesan bagus dari seorang penyair kepada pembacanya. Digambarkan, suatu sore yang cerah ketika Pablo Neruda sedang mengobrol dengan Mario Ruipollo, si tukang pos yang gandrung dengan puisi cinta Neruda, sempat terlontar kata-kata yang menarik dari Don Pablo;
"Jangan kau tanya arti puisiku Mario. Cukup rasakan saja."
Ya, saya percaya begitulah seharusnya. Puisi yang sarat beban dan pretensius cukuplah jadi bacaan berdebu di perpustakaan, lalu raib ditelan jaman.