(Aku ingin mengembara bersama mimpi-mimpiku. Kadang ia berlayar menuju Antigua denganku dan tato jangkarnya, kadang ia cuma berselonjor di beranda. Bercakap dengan desau angin.
Ah malam, daun tembakau dan muram. Tahukah engkau, di balik batang pisang itu tersembunyi sesosok peri dan seringai raksasa yang cantik? )
Malam ini aku ke Manut lagi. Mengusir penat dan sengit yang menyesakkan dada.
Semua bermula dari tangisan seorang teman. Agak aneh juga ia menangis menilik umurnya yang tak lagi remaja. Tapi perasaan tak hirau usia. Tak juga suasana.
Ia menangis karena sakit hati.
Temanku itu sensitif. Ditambah lagi dengan harga dirinya yang tinggi, klop sudah untuk sebuah kepribadian yang naif dan inosen. Ia sulit menerima dirinya di telan sarkasme yang kritis.
Ceritanya begini.
Temanku itu menulis artikel untuk majalah jurusan yang akan terbit. Dalam bahasa Inggris. Suatu hal yang tak mengejutkan jika di dalam tulisannya terdapat kesalahan gramatika dan idiomatika. Mengingat ia belum lagi fasih menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya itu. Masalahnya sekarang, artikel itu di edit oleh dosen yang sangat perfeksionis. Terutama masalah teknis seperti gramatika tadi.
Kadang aku berpikir dosenku seorang fasis bahasa.
Hal yang tak menguntungkan bagi temanku tadi, tulisannya dibahas di depan kelas. Sang dosen, dengan semangat seorang pendidik taman siswa, membantai buah karya itu dengan darah dingin. Diselipi canda satir juga.
“Ini gramatikanya tak waras. Terutama bagi kalian yang jurusan Inggris. Ada lho, teman saya yang sampai menolak membaca tulisan-tulisan semacam ini. Ia takut pikirannya dikotori...”
Senyum canda.
Kejadiannya tak akan sampai berujung derai air mata jika saja tak ada celetukan nyelekit dari seorang sok pintar.
Klimaksnya ada pada pribadi yang sok pintar ini. Ia bagiku tak lebih dari penjilat pantat dosen. Dengan santainya ia berkomentar pada temanku yang sedang dibantai dosen dalam percakapan tripartit; dosen, si penulis, dan si pengacau.
“Writing-mu dapat berapa sih?”
Seringai canda yang sinis. Kemudian memandang pak dosen seakan-akan mendengar kotbah Musa di Sinai.
Apa perlunya si pengacau ada disana?
Sebenarnya tak ada. Selain manggut-manggut berpura-pura terkesan dengan retorika pak dosen.
Mungkin juga untuk mengklaim tulisan yang sudah terkumpul dan sedang diedit adalah hasil jerih payahnya. Kesannya ia yang repot dalam proyek pembuatan majalah ini.
Aku kasihan dengan si pengacau dan pada saat yang sama si sensitif. Seharusnya ada yang menyediakan kaca super besar untuk si pengacau. Ia harusnya malu bertanya pada temanku si sensitif yang selalu mendapat A, sedangkan si penanya tertatih-tatih untuk dapat B+ dalam writing.
Si pengacau juga tidak berkontribusi apa-apa pada pembuatan majalah jurusan. Tidak menulis apa-apa. Cuma komentar. Aku juga bisa. Yu Par di bonbin juga bisa.
Awalnya si sensitif menyerahkan tulisannya padaku untuk diedit. Kami sepakat untuk mengumpulkan tulisan dahulu. Namun pak dosen yang terhormat setelah mendengar niat kami membuat majalah jurusan, berbaik hati untuk menyumbangkan tenaga mengedit tulisan. Yah, niat baik tak boleh ditolak.
Kebetulan saat itu si pengacau yang membawanya ke meja dosen.
Tapi bagaimanapun juga aku yang bertanggungjawab pada sampainya tulisan-tulisan itu ke tangan editor agung kita.
Mau tak mau akhirnya aku harus meminta maaf pada si sensitif yang tak menduga tulisannya diedit dosen.
Sengit masih menggantung mirip awan hujan bulan juni di dadaku.
Ku sms seorang teman,
“I really need ur advice. What’s ur strategy to face a really annoying estimate-himself-too-high-bastard?”
“Shoot him down. Correct his every mistake. Everytime his ego goes wild, remind him of his mistakes”
Yep. That’s definitely a good one. It calmed me down a bit.