Iseng mendengarkan lagi Guns ‘n Roses. Entah untuk apa. Ziarah mungkin, untuk meminjam kata yang kini kerap dipakai teman. Kenangan serentak bermunculan kembali.
Jadi ingat masa-masa SMP. Ketika disamping rumah masih sawah. Masih banyak anak-anak yang bisa diajak main layangan, berburu burung (padahal alasan buruk untuk nembak ayam tetangga), mancing ikan betok, dan bersenda gurau di pos kamling. Biasanya berujung main kartu dan judi kecil-kecilan. Kadang kalau bosan, bisa kompak nyepep bareng di rumah teman yang kebetulan punya laserdisk.
Malam hari lebih seru lagi. Setelah sore bermain bola di lapangan, kita belum berhenti kumpul-kumpul. Bisa jongkok-jongkok lagi di pos kamling membawa gitar dan rokok. SMP pertama kali aku ngerokok serius, juga belajar kord-kord gitar dari seorang karib. Lagunya jelas, kalau tak Guns ‘n Roses, bisa Metallica atau Nirvana. Kadang Ugly Kid Joe juga. Greenday baru muncul belakangan.
Itu memang masa paling indah. Jadi kangen dengan sejawat yang kini entah dimana. Terakhir aku pulang mereka sudah pada jadi orang tua. Pada kawin, atau tak tentu rimba.
Ingat dulu saat masih bareng-bareng mencoba minum alkohol. GGH namanya. Muka jadi merah dan kepala pusing, belum lagi pahit yang tak tertahankan di lidah. Namun semua bilang rasanya mantap, jaga gengsi. Dasar anak SMP.
Oh iya, ada satu kenangan tak terlupa. Aku dulu pernah bela-belain nyuri sampul majalah Hai dari perpus sekolah. Cuma karena di halaman depan itu ada gambarnya Saul Hudson alias Slash. Gila memang. Padahal cuma gambar biasa, tua, bulukan lagi.
Cuma karena sebuah lagu.
Ya, sebuah lagu memang mematri memori di sela nada-nadanya. Untuk itu ada orang yang menganggap sebuah dendang sebagai soundtrack of my life, maksudnya satu lagu yang menyeretnya pada satu momen dalam hidup. Mungkin saat ia diputus cinta, atau diterima sehabis nembak, atau sehabis lulus kuliah, lagu yang sering bertamu ke telinganya adalah lagu khusus itu.
Ah, takkan habis jika kubercerita tentang masa lalu dan lagu.
Mengasyikkan untuk berkubang kembali dalam genangan ingatan masa silam. Bagus juga untuk membuatku terjaga, kalau dulu aku juga pernah kanak-kanak. Tak ada salahnya kan?
Itu mungkin gunanya menyimpan rekaman lama. Sekedar jaga-jaga jika aku butuh melankoli. Melankoli obat yang mujarab untuk mengatasi kesepian dan kebosanan yang akut. Percayalah.
“Rif, gimana kabar lo? Galungan ga pulang?”
“Galungannya kapan?”
Percakapan lewat short messaging service. Sekedar tanda kalau saya dan masa lalu kian berjarak.
Melankoli. Saat ini saya butuh dalam dosis berlebih.