Aku kehilangan, dan untuk pertama kalinya aku bersedih. Kenangan tentang seseorang memang tak semudah itu diusir pergi dari bilik memori. Apalagi jika kenangan itu menyangkut sekeping kasih yang turut menuntun langkah-langkahmu; itu mirip menguras air susu yang telah mengalir bersama darah di pembuluh tubuh.
Ada yang datang dan ada yang pergi. Yang pergi enggan kembali. Sebenarnya tak ada yang perlu disesali jika yang pergi sempat melambai dan berucap pamit. Namun untuk saat ini aku bahkan tak sempat merangkul ia yang sudah memberi tanda untuk undur. Entah tak sempat atau aku memang tak siap.
Kukirim doaku lewat bisik-bisik yang berenang bersama malam. Semoga ia sampai di sana, di pembaringanmu.
Tapi, kenapa secepat ini?