<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, January 05, 2007
after a while

 

Jangan Kau Tanya Arti Puisiku Mario

 

Untuk Robert Frost dan The Road not Taken-nya

 

            Saya sependapat dengan Horace yang pernah mengatakan bahwa puisi itu layaknya imaji atau gambar. Ut pictura poesis, katanya dalam Ars Poetica. Sederhana, sebab kata-kata yang penyair untai berusaha membangun sebuah penggambaran tertentu dalam benak pembaca. Seberapa berhasil sebuah puisi mengesankan saya tergantung dari sejauh mana ia berhasil mengkonstruksi imaji dalam pikiran ini.

            Saya sedari dahulu kagum dengan penyair-penyair tertentu yang mampu menggali kekuatan kata-kata untuk menghadirkan bayangan yang luar biasa magis bagi saya. Coba kita simak bersama salah satu sajak dari Goenawan Mohammad ini, Lagu Pekerja Malam:

 

Lagu pekerja malam

Di sayup-sayup embun

Deru menderam

 

Saya  terkesan pada larik kedua puisi tersebut yang dengan cermat dan cerdik menaruh kata sifat sayup-sayup untuk embun. Luar biasa. Dalam bayangan yang hadir di kepala saya, terlihat suasana riuh kota dini hari dimana embun tipis putih menghalau pandangan, yang kadang terlihat kadang tidak. 

Atau satu sajak lagi yang selalu menjadi favorit saya, La Seis Cuerdas atau The Six Strings dari Federico Garcia Lorca:

 

The guitar

makes dream weeps

the sobbing of lost

souls

escapes through its round

mouth.

 

Hati saya tergerak oleh khayalan tentang anak-anak muda yang mengambil gitar lalu mendendangkankan sepatah-dua patah lagu cinta yang mendayu-dayu. Mereka ini lagi nggrantes, kalau orang Jawa bilang. Dan itu benar, saya sendiri merasakan pengalaman ketika cinta ditolak lalu tergesa mengambil gitar dan menyanyikan lagu-lagu cengeng. Jiwa saya yang hilang terisak-isak lewat mulut bundar si gitar bersenar enam.

            Hal diatas tadi selalu menjadi pertimbangan utama saya dalam membaca puisi. Oleh karena itu, puisi yang memikat selalu meng-KO saya dengan gambaran yang cantik sejak pembacaan pertama.

Sayangnya, The Road Not Taken dari Robert Frost kurang berhasil untuk melakukan hal tersebut.

              Saat membacanya, imaji yang ia hadirkan dalam benak saya adalah seorang tua yang membatin. Frost sendiri. Di dalam termangunya ia mengingat dua buah jalan yang dulu pernah ia hadapi. Yang satu telah ia lalui dan membawanya hingga ke titik ini, sedangkan yang telah ia tinggalkan masih ia ingat jelas dalam kenangan. Jalan itu, dalam benak saya, jalan pedesaan yang bersemak-semak dengan rerumputan liar disisinya. Sebuah gambaran yang saya bingung sisi menariknya dimana.

            Apa yang anda harapkan dari saya, seorang anak muda berumur dua puluh tahun dengan jiwa yang masih meledak-ledak, naif, dan tak berpikir panjang? Yang sajak-sajaknya selalu nakal, dan terkesan dengan sajak yang nakal pula. Yang jelas bukan sebentuk kebijaksanaan. Saya berpikir kekuatan puisi ini, saya akui sajak Frost tidak begitu saja gagal, ada di larik terakhir ketika ia menyatakan:

 

I took the one less travelled by,

And that has made all the difference.

 

Frost berhasil membuat saya menebak-nebak apakah ia menyesal ataukah jumawa dengan pilihannya. Namun ketika saya menyadari ia telah melalui jalan yang tak banyak diambil oleh orang lain, saya pikir penyesalan tentu bukan hal yang ingin ia sampaikan. Proud, mungkin lebih tepat. Saya akhirnya samar-samar menangkap meaning puisi ini. Namun yang membuat saya enggan adalah referencenya, yang jelas serupa nasehat. Puisi ini ada di luar horison harapan saya sebagai pembaca. Robert Frost jelas ingin mengatakan sesuatu pada saya, yang demi Tuhan saya sungguh tak tertarik.

            Puisi yang membuat saya tertarik adalah puisi yang tak pretensius, yang tak ada kandungan nasehat didalamnya, atau setidaknya saya tak menduga seperti itu. Penyair cukup membagi pengalaman yang ia terjemahkan pada bahasa sajak, lalu sajak itu sendiri yang bercerita pada saya. Dalam The Road Not Taken, yang berbicara bukan sajak. Tetapi Robert Frost.

Saya percaya puisi yang bertahan adalah puisi yang selalu dimaknai terus-menerus, yang enggan untuk berhenti dan terjebak pada satu terminal analisis. Untuk itu ia harus dekat dengan dengan pengalaman, agar pembaca dengan subyektivitasnya sendiri menggauli dan menentukan nasib puisi tersebut. Jangan sampai pesan atau pretensi-pretensi yang menghantui pembaca dan memaksa memaknai. Sebab sekali berarti, sesudah itu mati ucap Chairil Anwar suatu kali. Robert Frost dengan The Road Not Taken-nya, menurut saya, lebih dekat ke beban pretensi yang ia bawa daripada membiarkan pembaca asyik dengan imajinya sendiri.

            Robert Frost dan puisinya ini, baiknya dikumpulkan dengan Langston Hughes saat periode komunisnya ketika ia membuat puisi yang menggelikan tentang nabi baru bernama Karl Marx.

Lalu bagaimana seharusnya puisi digauli dalam keintiman antara pembaca dan sajak?

Jika anda sempat menonton Il Postino, ada adegan yang berisi pesan bagus dari seorang penyair kepada pembacanya. Digambarkan, suatu sore yang cerah ketika Pablo Neruda sedang mengobrol dengan Mario Ruipollo, si tukang pos yang gandrung dengan puisi cinta Neruda, sempat terlontar kata-kata yang menarik dari Don Pablo;

 

"Jangan kau tanya arti puisiku Mario. Cukup rasakan saja."

 

Ya, saya percaya begitulah seharusnya. Puisi yang sarat beban dan pretensius cukuplah jadi bacaan berdebu di perpustakaan, lalu raib ditelan jaman.


Tuesday, September 19, 2006
From Wino Forever and Jolie’s Tiger Clawing to Abmi’s Alphabet

         When I went to Kansas that morning I met two friends of mine who were lost in an exciting conversation about tattoo. Abmi, a young girl suffers from neurosis manifesting in her habit of biting a straw in to pieces, had just had an ancient alphabet curved on her chest. In the meantime, Dalih, a dead famous short story writer who together with the handsome, witty, and debonair essayist of this column allies for an independent media called Carpe Diem, was just commenting on her tormented yet funny look when being tattooed. I joined them and soon also was lost in their conversation. That was especially when I suggested Abmi to put a halo around her alphabet.

          To my surprise, getting tattooed recently becomes a must-have fashion to express your idiosyncrasy. I remember it was about a couple of decades ago that tattoo was still a token for identifying criminals or gali shot by petrus (mysterious shooter). Now it is suddenly a fashionable indication of a certain lifestyles. How come?

Criminals this time are smart enough not to represent themselves in a vulgar appearance. When watching action movies, you are not seeing any traditional Yakuza as antagonist with shirt-like tattoo on their bodies; instead you may encounter a gentleman with tuxedo and of table-manner when having his dinner. The Yakuza wear tattoo as their traditional custom, so do Dayak people who cut their enemies head off out there in the Borneo deep forests.

 Important to be noted, traditional tribes all around the world are likely to have this custom of tattooing in common with their own reason.

As a process of cultural expansion, however, this custom then is taken by modern folks worldwide as a particular expression. Certain people maybe found himself (in the past I think male is the most likely to wear tattoo) identifies a character with tattoo as rebellious. Unfortunately, these people tend to be defiant to their society. Criminals, subculture followers, even high school pranks who find their class-life boring drop by at a tattoo-maker and ask for a drawing. Seldom, at that time, these people consider it as an art. Stigmatization begins.

Then all of a sudden comes the shifting. When subculture followers are getting highly educated, do not remain stick to drop out students, and people are getting aware of the essence of tattoo itself, they start to consider it as an exotic piece of cultural practice, even an art. Bobos, bourgeois-bohemian, as David Brooks once wrote about it, in particular take it as a profane cultural commodity and attach to it a slight feeling of idiosyncrasy. Tattoo then, is found on Johny Depp's arm as "winona forever" which then changed to "wino forever", or on Angelina Jolie's back as a motive of tiger's clawing.

People wonder where was she lost in the middle of Cambodia and get clawed by local tattoo artist.

 In my case, I am a Balinese and tattoo is really a matter. My society traditionally has this custom of tattooing a certain symbols on our body. My grandfather's father has at least three or four obvious tattoos. The most interesting are the ones that curved on his hand, Cakra and Gada which are the weapon of two gods Wisnu and Brahma. This is not profane, I warn you, because only special people dare to wear it. Only if you have mastered a specific level of divine or supernatural power which tend to be misunderstood as witchcraft or of evil Leak spirit, you may go to a balian, Balinese shaman, and ask for one.

I will, probably, get a tattoo on my body someday. But first I have to know the reason for what I did it. If I have mastered some of divine powers out there, why not? This is to avoid a silly motive on my body. A tattoo needs a great deliberation, for sure. 

 

 


Tuesday, September 05, 2006
moving day

New Place for New Making Out

 

I have just moved to a new place. It is a rather well-built house, we rent it, in which five peoples live together; me, my younger brother, a friend of his and two girlfriends of mine. The house is cozy enough and clearly my room is way larger than my 'hole' at the second floor of my previous boarding house. Well, that's actually the reason why I decided to leave; that room doesn't provide enough space for at least an active young man plus his social circle. 

 

8.4 million rupiah. Then divide it to five. Figure it out and you'll get 1.68 million as one room's cost to everyone. Expensive? I don't think so. Take my previous room which costs me 2 million. I got a 3x2 m2 tiny area to put stuffs like personal computer and bookshelves. It leaves hardly one m2 for my own feet. In my new place, I have enough space. For even a herd of pranks.

 

I have been bothered by the fact that I have so small a place to live. This problem was exaggeratedly troubling me as I got friends visiting me frequently. Yet again, my younger brother came and shared my room since sometimes in May. You can imagine it when suddenly my girlfriend comes and somebody has to leave the room for a while to keep it tolerable to dwell in. This situation may be worst if one pal, again, suddenly drops by taking something from my computer. I have to let myself or my girlfriend get off the bloody small room. It is not too much to say that I hesitate to receive any guess when I was there.

 

No, not again.

 

Now we have our own living room for everyone. If in case there was an invasion of buddies visiting us, we could drop some in our living room. Or else, in the verandah. Kitchen is another option. Yes, we have that thing too. Nice to hear it huh?

 


Friday, June 30, 2006
yang tercecer

Surat buat seorang Hipi

Aku tahu, Theresia
Ketika matamu minta cium
Di atas elevator

Ini memang bukan soal moral
Ini soal basa-basi
Maka kaupun kugumul
Di atas ranjang lantai ke lima
Kita terengah
Terengah-engah
Tapi tak diperlukan komentar sesudahnya
Seperti bila orang Indonesia
Menyuguhkan teks
Dan kau harus minum
Katamu

(Mochtar Pabottinggi)

bangga neh jadi anak sastra Inggris. Bung Mochtar puisinya mantap nek!


Thursday, June 15, 2006
baju

Aku mau cerita soal baju baru.

Sebenarnya sudah lama baju ini kupesan. Aku minta tolong menyablon gambar pada seorang teman, sementara kaos putih polos kusiapkan sendiri. Kejadian pemesanannya sudah dua semester yang lalu.

Jadi bajunya baru sekarang.

Ya, aku sebenarnya tak enak juga menanyakan sebab musababnya pada temanku yang bersangkutan. Padahal teman-teman lain yang pesan belakangan bajunya sudah pada jadi. Malah ada yang sehari langsung jadi. Kenapa ya?

Setelah sekian lama berucap pisah pada bajuku itu—sebenarnya karena sedemikian bosannya menunggu aku sampai lupa pernah pesan—eh, dia datang sendiri. Dua hari yang lalu temanku menyerahkan hasil karyanya.

“Gimana De, mau taruh tulisan lagi dibawahnya?”

Ga usah. Gambarnya sudah bagus. (Padahal aku takut nanti aku harus menunggu setahun lagi untuk menunggu kalimat ‘hang yourself poet to your words otherwise you’re dead’ tercetak).

Singkat kata bajunya kupakai berhari-hari dengan intensi untuk kupamerkan. Sialnya ga ada reaksi antusias dari mereka yang melihatnya. Aku sempat berpikir kenapa. Apa figur yang tercetak di dadaku ini kurang ngetop ya?

Akhirnya kutemu jawabnya.

“De kamu kurang tulisan ‘setia’ deh di bawah gambarnya”

Seorang teman nyeletuk nakal. Senyum-senyum simpul.

Anjrit!!! Sekarang kutahu sebabnya. Mereka kira ini gambar Pongky Jikustik!

Duh, kasihan deh diriku. Cuma karena Langston muda berambut agak kriting mereka langsung mengidentifikasikannya dengan vokalis band antah berantah dari Indonesia.


Thursday, May 25, 2006
buzz

Sehabis membaca esai Octavio Paz.

Aku sekarang sangat tertarik dengan gaya-gaya penulisan berbagai orang. Baik yang kukenal lewat jumpa imajiner maupun yang langsung bersentuhan dengan kehidupanku. Aku mencermati dan pada saat yang sama menemu keunikan mereka.

Aku berjumpa perulangan. Dan paralelisme.

Menulis adalah proses. Celakanya pada saat yang sama ia juga refleksi kepribadian. Jadi membaca gaya penulisan mirip dengan melongok pada relung-relung terdalam karakter seseorang. Persoalannya sekarang adalah belajar membaca.

Mengidentifikasi diri dengan idola adalah hal yang tak terelakkan. Aku menghindari kata niscaya sebisa mungkin. Sebagaimana idola adalah fakir daripadanya kita curi sedikit-demi sedikit keping kepribadian kita. Kita buat fragmen baru yang bernama aku.

“Aku” tak diam di tempat. Ia bergerak. Dinamis dan progressif. Jika ia merupakan sekuel imaji, ungkapan yang pas untuknya adalah kronofotografi. Progres yang tercatat dalam urutan gambar per gambar. Hasil akhirnya adalah laku. Gerak, untuk singkatnya.

Mungkin mimpi setiap orang adalah membidani kelahiran adjektif baru yang bersumber dari namanya. Dari gaya tulisannya.

Sade sukses dengan kata sadis. Jadi mimpiku mungkin menggurat kata sudris pada kening tempat menyimpan vocab setiap orang.

Yang jadi pertanyaan sekarang, mendefinisikan gaya menulis ala Soedra itu seperti apa?


bloody tjurhat

(Aku ingin mengembara bersama mimpi-mimpiku. Kadang ia berlayar menuju Antigua denganku dan tato jangkarnya, kadang ia cuma berselonjor di beranda. Bercakap dengan desau angin.

Ah malam, daun tembakau dan muram. Tahukah engkau, di balik batang pisang itu tersembunyi sesosok peri dan seringai raksasa yang cantik? )

Malam ini aku ke Manut lagi. Mengusir penat dan sengit yang menyesakkan dada.

Semua bermula dari tangisan seorang teman. Agak aneh juga ia menangis menilik umurnya yang tak lagi remaja. Tapi perasaan tak hirau usia. Tak juga suasana.

Ia menangis karena sakit hati.

Temanku itu sensitif. Ditambah lagi dengan harga dirinya yang tinggi, klop sudah untuk sebuah kepribadian yang naif dan inosen. Ia sulit menerima dirinya di telan sarkasme yang kritis.

Ceritanya begini.

Temanku itu menulis artikel untuk majalah jurusan yang akan terbit. Dalam bahasa Inggris. Suatu hal yang tak mengejutkan jika di dalam tulisannya terdapat kesalahan gramatika dan idiomatika. Mengingat ia belum lagi fasih menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya itu. Masalahnya sekarang, artikel itu di edit oleh dosen yang sangat perfeksionis. Terutama masalah teknis seperti gramatika tadi.

Kadang aku berpikir dosenku seorang fasis bahasa.

Hal yang tak menguntungkan bagi temanku tadi, tulisannya dibahas di depan kelas. Sang dosen, dengan semangat seorang pendidik taman siswa, membantai buah karya itu dengan darah dingin. Diselipi canda satir juga.

“Ini gramatikanya tak waras. Terutama bagi kalian yang jurusan Inggris. Ada lho, teman saya yang sampai menolak membaca tulisan-tulisan semacam ini. Ia takut pikirannya dikotori...”

Senyum canda.

Kejadiannya tak akan sampai berujung derai air mata jika saja tak ada celetukan nyelekit dari seorang sok pintar.

Klimaksnya ada pada pribadi yang sok pintar ini. Ia bagiku tak lebih dari penjilat pantat dosen. Dengan santainya ia berkomentar pada temanku yang sedang dibantai dosen dalam percakapan tripartit; dosen, si penulis, dan si pengacau.

Writing-mu dapat berapa sih?”

Seringai canda yang sinis. Kemudian memandang pak dosen seakan-akan mendengar kotbah Musa di Sinai.

Apa perlunya si pengacau ada disana?

Sebenarnya tak ada. Selain manggut-manggut berpura-pura terkesan dengan retorika pak dosen.

Mungkin juga untuk mengklaim tulisan yang sudah terkumpul dan sedang diedit adalah hasil jerih payahnya. Kesannya ia yang repot dalam proyek pembuatan majalah ini.

Aku kasihan dengan si pengacau dan pada saat yang sama si sensitif. Seharusnya ada yang menyediakan kaca super besar untuk si pengacau. Ia harusnya malu bertanya pada temanku si sensitif yang selalu mendapat A, sedangkan si penanya tertatih-tatih untuk dapat B+ dalam writing.

Si pengacau juga tidak berkontribusi apa-apa pada pembuatan majalah jurusan. Tidak menulis apa-apa. Cuma komentar. Aku juga bisa. Yu Par di bonbin juga bisa.

Awalnya si sensitif menyerahkan tulisannya padaku untuk diedit. Kami sepakat untuk mengumpulkan tulisan dahulu. Namun pak dosen yang terhormat setelah mendengar niat kami membuat majalah jurusan, berbaik hati untuk menyumbangkan tenaga mengedit tulisan. Yah, niat baik tak boleh ditolak.

Kebetulan saat itu si pengacau yang membawanya ke meja dosen.

Tapi bagaimanapun juga aku yang bertanggungjawab pada sampainya tulisan-tulisan itu ke tangan editor agung kita.

Mau tak mau akhirnya aku harus meminta maaf pada si sensitif yang tak menduga tulisannya diedit dosen.

Sengit masih menggantung mirip awan hujan bulan juni di dadaku.

Ku sms seorang teman,

“I really need ur advice. What’s ur strategy to face a really annoying estimate-himself-too-high-bastard?”

“Shoot him down. Correct his every mistake. Everytime his ego goes wild, remind him of his mistakes”

Yep. That’s definitely a good one. It calmed me down a bit.

 


Tuesday, May 16, 2006
Melankoli

Iseng mendengarkan lagi Guns ‘n Roses. Entah untuk apa. Ziarah mungkin, untuk meminjam kata yang kini kerap dipakai teman. Kenangan serentak bermunculan kembali.

Jadi ingat masa-masa SMP. Ketika disamping rumah masih sawah. Masih banyak anak-anak yang bisa diajak main layangan, berburu burung (padahal alasan buruk untuk nembak ayam tetangga), mancing ikan betok, dan bersenda gurau di pos kamling. Biasanya berujung main kartu dan judi kecil-kecilan. Kadang kalau bosan, bisa kompak nyepep bareng di rumah teman yang kebetulan punya laserdisk.

Malam hari lebih seru lagi. Setelah sore bermain bola di lapangan, kita belum berhenti kumpul-kumpul. Bisa jongkok-jongkok lagi di pos kamling membawa gitar dan rokok. SMP pertama kali aku ngerokok serius, juga belajar kord-kord gitar dari seorang karib. Lagunya jelas, kalau tak Guns ‘n Roses, bisa Metallica atau Nirvana. Kadang Ugly Kid Joe juga. Greenday baru muncul belakangan.

Itu memang masa paling indah. Jadi kangen dengan sejawat yang kini entah dimana. Terakhir aku pulang mereka sudah pada jadi orang tua. Pada kawin, atau tak tentu rimba.

Ingat dulu saat masih bareng-bareng mencoba minum alkohol. GGH namanya. Muka jadi merah dan kepala pusing, belum lagi pahit yang tak tertahankan di lidah. Namun semua bilang rasanya mantap, jaga gengsi. Dasar anak SMP.

Oh iya, ada satu kenangan tak terlupa. Aku dulu pernah bela-belain nyuri sampul majalah Hai dari perpus sekolah. Cuma karena di halaman depan itu ada gambarnya Saul Hudson alias Slash. Gila memang. Padahal cuma gambar biasa, tua, bulukan lagi.

Cuma karena sebuah lagu.

Ya, sebuah lagu memang mematri memori di sela nada-nadanya. Untuk itu ada orang yang menganggap sebuah dendang sebagai soundtrack of my life, maksudnya satu lagu yang menyeretnya pada satu momen dalam hidup. Mungkin saat ia diputus cinta, atau diterima sehabis nembak, atau sehabis lulus kuliah, lagu yang sering bertamu ke telinganya adalah lagu khusus itu.

Ah, takkan habis jika kubercerita tentang masa lalu dan lagu.

Mengasyikkan untuk berkubang kembali dalam genangan ingatan masa silam. Bagus juga untuk membuatku terjaga, kalau dulu aku juga pernah kanak-kanak. Tak ada salahnya kan?

Itu mungkin gunanya menyimpan rekaman lama. Sekedar jaga-jaga jika aku butuh melankoli. Melankoli obat yang mujarab untuk mengatasi kesepian dan kebosanan yang akut. Percayalah.

“Rif, gimana kabar lo? Galungan ga pulang?”

“Galungannya kapan?”

Percakapan lewat short messaging service. Sekedar tanda kalau saya dan masa lalu kian berjarak.

Melankoli. Saat ini saya butuh dalam dosis berlebih.


Sunday, May 14, 2006
epitaph

Aku kehilangan, dan untuk pertama kalinya aku bersedih. Kenangan tentang seseorang memang tak semudah itu diusir pergi dari bilik memori. Apalagi jika kenangan itu menyangkut sekeping kasih yang turut menuntun langkah-langkahmu; itu mirip menguras air susu yang telah mengalir bersama darah di pembuluh tubuh.

Ada yang datang dan ada yang pergi. Yang pergi enggan kembali. Sebenarnya tak ada yang perlu disesali jika yang pergi sempat melambai dan berucap pamit. Namun untuk saat ini aku bahkan tak sempat merangkul ia yang sudah memberi tanda untuk undur. Entah tak sempat atau aku memang tak siap.

Kukirim doaku lewat bisik-bisik yang berenang bersama malam. Semoga ia sampai di sana, di pembaringanmu.

Tapi, kenapa secepat ini?


Saturday, April 29, 2006
manut nite

Aku mau cerita soal seorang kenalan baru yang kutemui di warung kopi. Mas Seno namanya. Kejadiannya kemarin malam, sewaktu aku mampir ke Manut untuk ketemu si Gembul.

Rencananya akan kuserahkan draf propaganda menolak SK Rektorat. Namun apa lacur, SK nya sudah dicabut tadi pagi. Yah, tak gunalah tulisanku itu. Tak guna juga jadinya rencana ketemu. Terbayang kan, betapa lambatnya aku menerima informasi.

Tapi aku ketemu Mas Seno. Sebagai ganti kecewaku. Pemuda ini istimewa karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah kecerdasannya yang tak dibalut oleh kemasan artifisial. Maksudku, tak seperti beberapa orang yang kutemui yang berusaha keras menjadi terkesan intelek dengan berbagai macam cara. Mas Seno apa adanya. Namun kutahu dia cerdas.

Obrolan kami ngalor ngidul. Mula-mula bicara tentang nonton film, lalu soal pendidikan, tiba-tiba bisa nyambung ke komik dan cerita.

Nah ini dia. Ini dia yang pengen kuceritakan. Mas Seno punya sesuatu yang menarik soal “cerita”. Kenapa? Sebab ia kini sedang berada dalam sebuah penyelidikan untuk menyingkap apa itu cerita!

Kata dia, cerita adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Tak ada cerita ya tak ada kehidupan, simpulnya. Hal itu yang mendasari ketertarikannya untuk menyelami dunia perceritaan lebih lanjut. Ia mulai dengan mengajukan pertanyaan; kenapa orang bercerita? Apa yang orang inginkan dari sebuah cerita? Dan seterusnya, dan seterusnya. Panjang.

Namun sangat menarik. Aku tak bosan mendengar dan berdiskusi dengannya. Kalian boleh percaya boleh tidak, obrolanku dengannya bisa dipakai sebagai tips bagi mereka yang ingin menulis sebuah cerita. Eh, yang kumaksud pemaparan yang ia bagi denganku. Sebab ketika mengobrol ia yang lebih banyak menjelaskan.

Obrolan kami misalnya, apa unsur pokok pembentuk cerita. Lalu tentang konflik. Apa itu konflik? Wah, kami membahasnya panjang lebar lho. Satu lagi, apa sebenarnya yang membuat kita bisa mengatakan sebuah cerita itu bagus? Ternyata menurut Mas Seno hal itu adalah rasa percaya.

Kalau ku mengulang kembali obrolan kami, tak cukup lah satu dua lembar folio. Buku mungkin yang lebih pas. Sempat juga kukatakan itu sama Mas Seno. Dia berujar, tunggulah nanti. Mungkin 20 tahun lagi, kalau aku sudah jadi doktor. Hehehe ia tertawa. Jangan salah, saking panjang lebarnya aku baru pamitan jam setengah dua pagi.

Kembali ke kecerdasan yang kutemukan dari Mas Seno. Ia salah seorang yang membuatku semakin yakin kalau tolok ukur kecerdasan seseorang bukan dari banyaknya kata serapan yang ia pakai, atau istilah-istilah rumit yang bikin ini kepala rindu Paramex. Ia apa adanya, tapi mampu menjelaskan berbagai konsep rumit dengan bahasa sederhana. Aku sampai menduga, jangan-jangan ia juga bisa berdiskusi tentang dramatika atau drama tiga babak dengan tukang becak.

Aku jadi makin kagum pada saat dia bilang dia tak lulus kuliah. Kagum dalam arti, horisonnya jauh lebih luas dari anak kuliahan sepertiku. Iya, Mas seno dulunya juga kuliah. Tapi mungkin karena pertimbangan tertentu dunia kerja lebih menjanjikan baginya. Ia bisa beragumentasi dengan baik soal hal ini. Baginya yang terpenting adalah pengalaman dan skillmu. Nanti itu terlihat dalam portofolio ketika dirimu melamar pekerjaan. Tak usah khawatir, jika portofoliomu dan referen didalamnya bagus, kamu bisa bersaing dengan para fresh graduate. Ia sudah membuktikannya jadi aku percaya. Ia belum pernah ditolak jika melamar kerja.

Gak tamat kuliah kok mau jadi doktor? Iya ia tak tamat di Fakultas Sastra. Tapi kini ia mengambil satu mata studi di universitas terbuka. Jadi kuliahnya di Fakultas Sastra yang tak ia selesaikan. Oh iya, mungkin juga karena ia sudah kerja yang bikin dia jadi terbagi konsentrasinya. Ia penulis naskah film. Sudah banyak karyanya yang difilmkan, jika ku tak salah mendengar obrolannya dengan Gembul.

Luar biasa. Berprestasi ternyata tak harus lewat titel bergengsi.

 


Next Page